Saturday, 6 May 2017

Islam rahmatan lil'alamin ??



Banyak yang mengatakan bahwa
Islam adalah agama yang rahmatan lil
‘alamin , karena itu yang terpenting
dalam Islam adalah
mengimplementasikan kerahmatan
Islam, yaitu menciptakan kedamaian
dan keharmonisan di tengah-tengah
masyarakat, dan umat Islam tidak
perlu terjebak pada hingar bingar
formalitas, seperti perjuangan
penerapan syariah Islam. Lalu mereka menguatkan
pendapatnya dengan mengutip firman
Allah swt. dalam Surat al-Anbiya ayat
107, “ Dan tiadalah Kami mengutus
kamu, melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam ”.
Menurutnya, Islam akan
menebarkan rahmat untuk alam
semesta jika umat Islam menciptakan
hidup yang penuh dengan kedamaian,
toleransi, bersikap moderat, menjaga
kerukunan antar umat beragama, tidak
merasa benar sendiri, menjauhi hal-hal
yang dapat menimbulkan konflik
seperti keinginan untuk
memformalisasikan syariah Islam
dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. Menurutnya, berlaku
semena-mena, itu bukan
mencerminkan Islam sebagai
rahmatan lil ‘alamin . Perbuatan ini
sangat dibenci oleh Islam. Jangankan
kepada manusia, yang memang telah
ditakdirkan ada yang muslim dan ada
yang non-Muslim, berlaku semena-
mena kepada binatang saja dilarang
dengan tegas oleh Islam. Lalu mereka
mengutip hadits nabi: “ Siapa yang
dengan sewenang-wenang membunuh
burung, atau hewan lain yang lebih
kecil darinya, maka Allah akan
meminta pertanggungjawaban
kepadanya ” (HR. Al Hakim). Sungguh
begitu indahnya Islam itu, bukan?
Dengan hewan saja tidak boleh
sewenang-wenang, apalagi dengan
manusia. Bayangkan jika manusia
memahami dan mengamalkan ajaran-
ajaran Islam, maka akan sungguh
indah dan damainya dunia ini.
*****
Jika diteliti dengan jujur dan
cermat, pernyataan di atas
sebagiannya memang benar adanya,
tetapi sebagian yang lain hanya ilusi
akal manusia yang betentangan
dengan Islam itu sendiri. Namun,
sayangnya pernyataan tersebut
dibungkus dalam satu wadah,
sehingga seakan-akan pernyataan
tersebut merupakan satu kesatuan
pemahaman yang
utuh. Karena itu, banyak sekali orang
yang terpesona dengan pernyataan
tersebut. Lalu, banyak orang yang ikut-
ikutan mempromosikan, tanpa
memahami hakikat yang sebenarnya.
Memang benar 100%, bahwa
Islam adalah ajaran dari Allah swt dan
sebagai rahmat lil alamin . Namun
demikian, benarkah ayat ini harus
ditafsirkan bahwa umat Islam harus
menjauhi dan meninggalkan
penerapan syariah Islam dalam
kehidupan bermasyarakat dan
bernegara ? Berikut ini
akan dipaparkan penafsiran ayat
tersebut, yaitu bahwa Islam
merupakan rahmat bagi seluruh alam,
oleh para ahli tafsir yang mu’tabar .
Syeikh Muhammad Ali As
Shabuniy dalam tafsirnya Shafwatut
Tafaasiir Juz II/253 saat menafsirkan
surat Al-Anbiya ayat 107, beliau
menyatakan: bahwa Allah swt tidaklah
mengutus Nabi Muhammad saw.
melainkan sebagai rahmat bagi
seluruh makhluk-Nya. Dalam suatu
hadits yang diriwayatkan Ibnu Asakir,
dikatakan bahwa Nabi saw bersabda:
”Sesungguhnya aku hanyalah rahmat
dan petunjuk”. Dalam ayat tersebut
Allah swt. tidak mengatakan rahmatan
lil mukminin , tetapi rahmatan lil alamin ,
karena Allah swt menyayangi seluruh
makhluk-Nya. Artinya, diutusnya
Rasulullah saw. adalah membawa
kepada mereka kebahagiaan yang
besar dan keselamatan dari puncak
kesengsaraan. Seluruh manusia dapat
mengambil darinya kebaikan yang
banyak, kebaikan dunia maupun
kebaikan akhirat. Karena Rasulullah
saw. mengajarkan kepada mereka
ilmu setelah kebodohan mereka dan
memberikan petunjuk setelah
kesesatan mereka. Maka beliau
merupakan rahmat bagi seluruh alam.
Bahkan orang-orang yang kafir
terhadap kerasulan beliau pun masih
mendapatkan rahmat karena
diakhirkan adzab buat mereka, tidak
seperti kaum terdahulu yang selalu
kontan disiksa manakala tidak
menerima petunjuk dan peringatan
Rasul mereka.
Sedangkan Imam Ibnu Katsir ,
menjelaskan arti “ rahmatan lil alamin”,
dalam surat Al-Anbiya 107, sebagai
berikut: Di sini Allah swt berfirman
kepada kita bahwa Dia telah
menciptakan Muhammad saw.
sebagai rahmat bagi seluruh alam
( rahmatan lil ‘alamin ). Artinya, Dia
mengirimnya sebagai rahmat untuk
semua orang. Barangsiapa menerima
rahmat ini dan berterima kasih atas
berkah ini, dia akan bahagia di dunia
dan akhirat. Namun, barangsiapa
menolak dan mengingkarinya, dunia
dan akhirat akan lepas darinya, seperti
yang Allah swt sampaikan: “Tidakkah
kamu perhatikan orang-orang yang
telah menukar nikmat Allah (perintah-
perintah dan ajaran-ajaran Allah)
dengan kekafiran dan menjatuhkan
kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu
neraka jahannam; mereka masuk
kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk
tempat kediaman.” (QS.
Ibrahim:28-29). Dan Allah juga
befirman dalam Al Qur’an:
“Katakanlah: “Al Quraan itu adalah
petunjuk dan penawar bagi orang-
orang mukmin. Dan orang-orang yang
tidak beriman pada telinga mereka ada
sumbatan, sedang Al Quraan itu suatu
kegelapan bagi mereka (tidak memberi
petunjuk bagi mereka). Mereka itu
adalah (seperti) yang dipanggil dari
tempat yang jauh.” (QS. Fushshilat:44)
Imam Muslim meriwayatkan
dalam kitab Shahih-nya: Ibnu Abi
‚ Umar telah menceritakan ke kami,
Marwan Al-Fayari menceritakan ke
kami, dari Yazid bin Kisan, dari Ibnu
Abi Hazim bahwa Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘Anhu berkata, bahwa
telah dikatakan, “ Wahai Rasulullah,
berdoalah menentang kaum
Musyrikin.” Beliau berkata: “Saya tidak
dikirim sebagai kutukan, melainkan
sebagai rahmat.” (HR. Muslim)
Imam Ahmad meriwayatkan
bahwa ‘Amr bin Abi Qurrah Al-Kindi
berkata: “Hudzaifah Radhiyallahu
‘Anhu ada di Al Mada’in. Hudzaifah
datang ke Salman Radhiyallahu ‘Anhu
dan Salman berkata: ‘Ya Hudzaifah,
Rasulullah Ssaw. kadang-kadang
marah dan berbicara dalam kondisi
demikian, dan kadang-kadang senang
dan berbicara dalam kondisi demikian.
Saya tahu bahwa Rasulullah saw. telah
menyapa kami dan berkata: “Sebagian
umatku telah aku cerca atau aku maki
ketika aku marah, karena aku adalah
salah seorang dari keturunan Adam,
dan aku bisa menjadi marah seperti
dirimu. Tetapi Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah mengirimku sebagai
rahmat untuk seluruh alam, sehingga
aku akan membuat itu (marahku)
sebagai berkah buatnya di hari
kebangkitan.” (HR. Ahmad)
Kisah ini juga diriwayatkan oleh
Abu Dawud dari Ahmad bin Yunus,
dari Ya’idah. Ditanyakan: Apa bentuk
rahmat yang diperoleh bagi mereka
yang kafir terhadap beliau saw?.
Jawabannya adalah apa yang
diriwayatkan oleh Abu Ja’far, dari Ibn
‘Abbas mengenai ayat ini: “Dan
tiadalah Kami mengutus kamu,
melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam.” (QS. Al-Anbiya 107).
Dia berkata, “ Barangsiapa beriman
kepada Allah dan Hari Akhir, rahmat
akan ditetapkan atasnya di dunia ini
dan akhirat. Barangsiapa tidak beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya, akan
dilindungi dari apa yang telah menimpa
bangsa-bangsa terdahulu
(kemusnahan), seperti gempa bumi
dan hujan batu. ”
*****
Dari penjelasan para ahli tafsir
tersebut, tampak bahwa makna yang
sebenarnya dari pernyataan “Islam
sebagai rahmat bagi alam” sangat
jelas. Dengan melihat penjelasan para
ahli tafsir yang terpercaya tersebut,
tidak mengandung arti sedikit pun
bahwa Islam rahmatan lil ‘alamin itu
dapat diartikan bahwa tidak perlu
menerapkan syariah Islam secara
formal dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Kesimpulan ini merupakan
kesimpulan yang sama sekali tidak
ada korelasinya dengan pernyataan
“Islam sebagai rahmat bagi seluruh
alam”.
Bahkan, kesimpulan ini seperti
kesimpulan orang yang melihat ayam
bakar yang sangat enak, lalu tidak ada
angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba ia
menyimpulkan bahwa “ Karena ayam
bakar itu enak sekali, maka kita tidak
perlu makan ayam bakar. Diambil
substansinya saja ”. Apakah ada
hubungan antara pernyataan dan
kesimpulannya?
Jika memang Islam itu rahmatan
lil alamin yang akan membawa
kebaikan bagi alam, dan seluruh
manusia baik muslim dan non muslim,
juga hewan dan mahkluk-makhluk lain,
seharusnya Islam itu diterapkan dalam
semua aspek kehidupan, sehingga
kerahmatan itu benar-benar
terealisasi. Islam perlu diterapkan
dalam kehidupan individual, sehingga
kehidupan individu tersebut dipenuhi
dengan rahmat. Islam perlu diterapkan
dalam kehidupan keluarga, sehingga
keluarga tersebut dipenuhi dengan
rahmat. Islam juga perlu diterapkan
dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara, sehingga masyarakat dan
negara tersebut dipenuhi dengan
rahmat. Bukankah demikian?
Bukankah sesuatu yang baik,
seharusnya diterapkan, bukan malah
ditentang? Jika demikian, apa artinya
mengatakan Islam itu ramhat, tetapi
justru penerapannya ditentang?
Namun, dalam hal ini, sepertinya
banyak yang agak kurang konsisten.
Banyak orang yang mengatakan Islam
itu rahmatan lil alamin , tetapi begitu
khawatir kalau Islam diterapkan.
Sebenarnya, sadar atau tidak, mereka
telah mengkhayalkan bahwa saat
syariah Islam jika
diterapkan akan membawa bencana
dan malapetaka yang tak terperikan.
Mereka begitu ketakutan, bahwa Islam
tidak akan bisa mengayomi
masyarakat, terutama warga non
muslim. Mereka sangat meragukan
kemampuan Islam dalam memberikan
kebahagiaan, ketentraman dan
kemajuan bagi masyarakat yang
plural, multi-etnik dan multi-agama.
Bukan hanya itu, lalu mereka
memposisikan diri di garda terdepan
dalam menghalangi perjuangan
penegakan syariah. Ada
apa ini sebenarnya?
Itu dari satu sisi. Sementara pada
sisi yang lain, ayat  “ Dan tiadalah Kami
mengutus kamu, melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam ”
tidak ada hubungannya dengan
toleransi atau kerukunan hidup
beragama. Sebab, tentang kerukunan
dan toleransi, sungguh Islam telah
menjelaskan dengan sangat detil
dalam syariah Islam, tetapi bukan
dengan ayat ini. Islam memang
mendorong umat Islam untuk
berdakwah kepada non-Muslim agar
mereka memeluk Islam, sebab
dipahami dakwah ini adalah bentuk
kecintaan yang sangat mendalam
kepada sesama manusia, sehingga
manusia bisa terlepas dari adzab Allah
di akhirat nanti. Namun, dakwah ini
memang tidak boleh dilakukan dengan
paksaan. Dalam hal ini Allah
berfirman: “ Tidak ada paksaan untuk
(memasuki) agama (Islam).
Sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang sesat. Oleh
karena itu, siapasaja  yang mengingkari
thâghût dan mengimani Allah,
sesungguhnya ia telah berpegang pada
tali yang amat kuat yang tidak akan
putus. Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui. ” (QS al-Baqarah [2]:
256).
Saat syariah Islam diterapkan
oleh Khalifah, warga non-Muslim
dinamakan sebagai ahlu dzimmah .
Mereka memiliki hak dan kewajiban
yang sama dengan warga negara yang
lain. Meski memang ada kewajiban-
kewajiban yang spesifik, sebagai
konsekuensi dari perbedaan agama ini.
Misalnya jihad hanya wajib bagi warga
muslim, sementara jizyah hanya wajib
bagi warga non-Muslim. Namun,
secara umum, mereka mendapatkan
jaminan kemanan, perlindungan dan
pelayanan yang sama dengan warga
lain, yang beragama Islam. Harta dan
darah mereka terjaga sebagaimana
terjaganya darah dan harta kaum
Muslim. Bahkan Rasulullah saw
menyatakan dalam banyak hadis,
bahwa siapa menyakiti warga
dzimmi tak ubahnya menyakiti
Rasulullah saw. dan tak akan pernah
mencium baunya surga. Diriwayatkan
Al-Khathib dari Ibnu Mas’ud, bahwa
Rasulullah saw. pernah bersabda:
“ Siapa saja yang menyakiti dzimmi
maka aku berperkara dengan dia.
Siapa saja yang berperkara dengan
aku, maka aku akan memperkarakan
dia pada Hari Kiamat ” (As-Suyuthi,
Al-Jâmi‘ ash-Shaghîr ).
Sebenarnya tentang kemampuan
Islam dalam mengayomi warga
negaranya, termasuk kepada ahlu
dzimmah , sungguh tidak perlu
diragukan lagi. Siapa saja yang
meragukan kemampuan Islam,
sebetulnya saja meragukan Islam itu
sendiri.
Bahkan, jika dilihat secara
historis, saat syariah Islam diterapkan
secara kaffah, warga ahlu dzimmah
mendapatkan keamanan dan
pelayanan yang baik dari Khilafah
Islam. Hal ini sebagaimana yang
disampaikan oleh Dr. William Draper,
seorang sejarawan American English
dan seorang saintis menyampaikan
“During the period of the Caliphs the
learned men of the Christians and the
Jews were not only held in great
esteem but were appointed to posts of
great responsibility, and were
promoted to the high ranking job in the
government....He (Caliph Haroon
Rasheed) never considered to which
country a learned person belonged nor
his faith and belief, but only his
excellence in the field of learning.”
(Selama masa kekhilafahan, orang-
orang terdidik dari kalangan Kristen
dan Yahudi, tidak hanya mendapatkan
penghargaan besar, tetapi juga
ditunjuk untuk menempati pos-pos
dengan tanggung jawab yang besar
dan dipromosikan untuk menempati
posisi pekerjaan kelas atas dalam
pemerintahan... Dia (Khalifah Harun
Arrosyid) tidak pernah melihat asal
kebangsaan mereka, juga keimanan
dan kepercayaan mereka, tetapi hanya
melihat keistimewaan mereka dalam
bidang keilmuan) . Hal ini telah saya
dibahas pada tulisan-tulisan yang lain.
Jadi, syariah Islam tidak akan
mendzalimi mereka, apalagi
membantai mereka. Tetapi sebaliknya,
mereka justru akan mendapatkan
keamanan dan pelayanan yang
seharusnya. Itu terjadi, bukan karena
agar umat Islam dianggap sebagai
orang yang toleran, tetapi, memang
begitulah ajaran Islam. Itulah syariah
Islam yang memang membawa
keadilan, dalam arti yang sebenar-
benarnya. Namun, jika mereka
melanggar aturan, mereka akan
mendapatakan sanksi, sebagaimana
hukum syariah yang berlaku.
Dengan demikian, Islam dan
umatnya tidak perlu diajari tentang
toleransi dari para pendeta atau para
filusuf barat. Mereka itulah yang
seharusnya belajar dari Islam. Islam
telah menjelaskan hal ini dengan
sangat detil, sehingga semestinya
umat Islam tidak perlu bingung,
apalagi sampai kebablasan dalam
urusan toleransi ini.
Dari berbagai fakta menunjukkan,
bahwa non-Muslim akan dilindungi
dan dilayani dalam Khilafah yang
menerapkan syariah, tetapi sebaliknya
saat syariah tidak diterapkan dalam
bingkai syariah, baik Muslim maupun
non-Muslim, tidak mendapatkan
pelayanan yang semestinya dari
penguasanya. Contoh paling
sederhana adalah fakta di Indonesia
saat ini. Dalam sistem kapitalisme,
yang dilayani hanya pejabat dan
orang-orang kaya yang memiliki uang
banyak. Tetapi jangan tanyakan
tentang pelayanan kepada rakyat
biasa, baik ia muslim atau non-
muslim.... Mereka kalau perlu diusir,
karena dianggap membebani APBN
saja, sebab sukanya minta subsidi....
Kemudian tentang larangan
sewenang-wenang, itu memang ajaran
Islam yang lurus. Kita, umat Islam
memang dilarang berprilaku
sewenang-wenang, kepada siapa pun.
Bahkan kepada hewan pun, kita tidak
boleh sewenag-wenang. Rasulullah
saw. menyampaikan riwayat al-Imam
al-Hakim, “ Siapa yang dengan
sewenang-wenang membunuh burung,
atau hewan lain yang lebih kecil
darinya, maka Allah akan meminta
pertanggungjawaban kepadanya ”.
Memang benar, bahwa burung
tersebut mempunyai hak untuk
disembelih dan dimakan, bukan
dibunuh dan dilempar. Tetapi, hadits
ini sekali lagi bukan menjadi dalil atau
argumentasi, tidak perlunya penerapan
syariah Islam dalam bingkai Khilafah.
Kemudian tentang permasalahan
potensi konflik saat Islam diterapkan,
itu masalah lain. Manusia itu memang
berpotensi untuk konflik, karena
berbagai hal, baik urusan makanan,
wanita, jabatan, dan semua hal yang
lain. Oleh karena itu, jangan hanya
permasalahan syariah yang dianggap
berpotensi konflik. Perang dunia I dan
perang dunia II yang membawa
korban puluhan juta umat manusia,
apakah karena penerapan syariah
Islam? Dijatuhkannya bom nuklir oleh
Amerika di Jepang, apakah karena
penerapan syariah Islam? Serangan
Amerika ke Irak dan Afganistan,
apakah karena syariah Islam? Jika kita
jujur, semua konflik yang berdampak
pada kehancuran itu disebabkan
karena nafsu manusia, yang tentu saja
karena mereka tidak mau tunduk
dengan Islam dan syariahnya.
Di Indonesia sendiri, konflik yang
terjadi di Papua, di Timor Timur
(sebelum lepas dari Indonesia), di
Aceh, dan di berbagai tempat, apakah
karena penerapan syariah Islam dalam
kehidupan bermasyarakat dan
berbegara? Semua konflik yang ada
tersebut terjadi justru saat Indonesia
menganut demokrasi dan liberalisme.
Semua konflik yang ada justru karena
berbagai permasalahan yang
seharusnya tidak perlu, jika mereka
paham syariah dan mau menerapkan
syariah.
Konflik itu memang sangat
mungkin terjadi di mana pun, justru
Islam dengan syariahnya datang
dalam rangka menghilangkan atau
meminimalisasi konflik-konflik yang
tidak seharusnya terjadi. Lihatlah, kota
Madinah yang selama beratur-ratus
tahun dilanda konflik, namun konflik
itu berubah menjadi persatuan saat
diterapkan Islam oleh Rasulullah saw.
Karena itu, syariah dan Khilafah
ini memang harus dijelaskan secara
detil dan gamblang kepada semua
masyarakat, baik muslim maupun non-
muslim. Jika, mereka tidak paham,
sangat mungkin penerapan syariah
akan menjadi permasalahan. Tetapi,
jika mereka paham tentang keadilan
Islam, Insya Allah mereka bisa
menerima sebagaimana penerimaan
warga Kristen Palestina, saat di
dakwahi oleh umat Islam pada zaman
Umar bin Khattab.
Meski demikian, pasti tetap saja
ada pihak-pihak yang sudah paham,
tetapi tetap menolak dan menghalangi
penerapan syariah. Namun seiring
dengan pemahaman masyarakat
tentang Islam dan syariahnya yang
agung, orang-orang seperti ini
biasanya akan semakin kehilangan
pengaruh di masyarakat, sebagaimana
Abdullah bin Ubay di zaman
Rasulullah saw. dahulu.
Jadi, memahamakan masyarakat
tentang syariah dan Khilafah, memang
membutuhkan proses dan proses
inilah yang dinamakan dakwah.
*****
Dari penjelasan di atas,
dapat disimpulkan bahwa
Islam memang ajaran Allah
swt. yang akan menebarkan
rahmat bagi seluruh alam.
Karena itu, Islam harus
diterapkan dengan benar
dalam segala aspek
kehidupan, baik dalam
kehidupan pribadi, keluarga,
masyarakat dan negara.
Penerapan Islam secara
totalitas ini, insya Allah akan
membawa rahmat, dalam
wujud kesejahteraan,
keamanan, ketentraman, dan
keharmonisan. Semua warga
negara, baik muslim maupun
non-Muslim akan merasakan
rahmat itu di dunia. Namun,
di akhirat nanti, manusia akan
mempertanggung-jawabkan
keputusan dan amal yang
mereka perbuat di dunia.
Seorang muslim yang beramal
sholih akan mendapatkan
jannah, sementara orang-
orang kafir akan
mendapatkan adzab Allah swt.
yang sangat pedih.
Islam sebagai rahmat bagi
seluruh alam ini, sama sekali
tidak bisa dipahami bahwa
Islam tidak perlu diterapkan.
Justru sebaliknya, kerahmatan
Islam akan terealisasi dengan
penerapan Islam secara kaffah
dalam semua lini kehidupan
Menginginkan
kerahmatan Islam, tetapi
menolak penerapan
syariahnya, itu tak ubahnya
seperti menginginkan
kecerdasan tetapi menolak
untuk belajar.
Wallahu a’lam .

1 comment:

  1. Maaf ya guys melenceng dari tema gaming
    Ini karena tugas kuliah
    Hehe 😁

    ReplyDelete